Kata dan Istilah

puisi-pacar-romantiskata adalah Satuan bentuk terkecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai makna

(Finoza,2007: 76). Dalam pengertian yang lain agalah satuan unsur bahasa yang terkecil yang dapat diujarkan sebgai bentuk yang bebas (kamusbesar BI). Gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu (Basuki, 1995: 23). Istilah bersifat internasional, mempunyai konsep universal dalam ilmu yangbersangkutan. Contoh: jihad, iman, tauhid, syahid, taqwa, dsb. (istilah-istilah Islam). Dapat disimpulkan kata adalah sekumpulan huruf yang mempunyai makna tertentu. Sedangkan istilah adalah sama dengan kata.
  1. Perbedaan kata dengan istilah
perbedaanya terdapat dalam jumlah makna.Dalam kata terdapat banyak makna. misalnya saya adalah pemenang.kata saya mempunyai banyak makna. Bisa bermakna sanh pembaca, sang penulis, atau yang lain. Sedangkan istilah mempunyai satu makna. Misalnya embrio adalah salah satu ilmu yang di pelajari dalam biologi. Istilah embrio mempunyai arti satu yaitu janin. meskipun kita membuat 10 kalimat dengan istilah embrio, maknanya akan tetap. kesimpulannya semua kata tidak dapat menjadi istilah, tetapi semua istilah dapat menjadi kata.
      2.  Pembagian kata
a. Kata kerja (verba)
     Menyatakan perbuatan, proses, dan keadaan yang bukan merupakan sifat. Catatan: Umumnya berfungsi sebagai predikat.
Ciri-ciri:
  1. Dapat diberi aspek waktu akan, sedang, dan telah (akan tidur, sedang makan, telah pergi).
  2. Dapat diingkari dengan kata tidak (tidak tidur, tidak makan, tidak pergi).
  3. Dapat diikuti oleh gabungan kata dengan menambahkan kata benda (menulis dengan pena) atau kata sifat (menulis dengan cepat).
Bentuk-bentuk kata kerja:
  • Kata kerja asal, yakni kata kerja yang dapat berdiri sendiri di dalam kalimat tanpa bantuan afiks. Contoh: tulis, pergi, bicara, lihat, dsb.
  • Kata kerja turunan, yakni kata kerja berimbuhan atau berafiks. Contoh: menulis, bepergian, berbicara, melihat, dsb.
  • Verba reduplikasi, yakni kata kerja berulang (dengan atau tanpa imbuhan). Contoh: makan-makan, batuk-batuk, berlari-lari, dsb.
  • Verba majemuk, yakni kata kerja yang terbentuk melalui proses penggabungan kata yang tidak membentuk idiom. Contoh: terjun payung, temu wicara, tatap muka, dsb.
  • Verba berpreposisi, yakni kata kerja intransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. Contoh: tahu akan, berdiskusi tentang, cinta pada, sejalan dengan, terdiri dari, menyesal atas, tergolong sebagai, dsb.
       b. Kata sifat adalah kata yang  menerangkan sifat, watak, dan tabiat.
  Ada 2 bentuk kata sifat:
  1. Kata sifat tunggal dibagi menjadi lima kelompok, yakni: keadaan atau situasi (aman, gawat, dsb.), warna (merah, hijau, biru, dsb.), ukuran (tinggi, pendek, dsb.), perasaan atau sikap (malu, bahagia, sedih, dsb.), dan indera (harum, manis, pedas, dsb.). Ciri-ciri kata sifat bentuk tunggal adalah:
  • Dapat diberi keterangan pembanding lebih, kurang, dan paling. Contoh: lebih baik, kurang indah, paling bodoh, dsb.
  • Dapat diberi keterangan penguat seperti sangat, benar, dan sekali. Contoh: sangat mahal, murah benar, dan indah sekali, dsb.
  • Dapat diingkari dengan kata ingkar tidak. Contoh: tidak benar, tidak sehat, dsb.
2.  Kata sifat berimbuhan dibentuk dari sufiks dan diserap dari bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan bahasa Arab. Selain itu, ada dua kombinasi afiks yang membentuk kata sifat, yakni konfiks dengan bentuk dasar kata ulang atau reduplikasi. Masing-masing dicontohkan sebagai berikut:
    (sufiks)  -al aktual
                  -I insani, hewani
                  -iah batiniah
                  -wi duniawi
    (konfiks) ke-+-an (reduplikasi) kekanak-kanakan, kebarat-baratan
                  se-+-nya (reduplikasi) sebaik-baiknya, sepandai-pandainya
                 me-+-kan (reduplikasi) membesar-besarkan
       c. Kata keterangan (adverbia)
    Adalah kata yang memberi keterangan pada verba, adjektiva, nominal predikatif, atau kalimat.
  • Menerangkan verba, contoh: Dia ingin segera sekolah.
  • Menerangkan adjektiva, contoh: Permasalahannya sangat sederhana.
  • Menerangkan nomina predikatif, contoh: Saya hanya sebagai pekerja harian.
  • Menerangkan kalimat secara keseluruhan, contoh: Sepertinya ibu bahagia.
      d. Kata benda (nomina)
    Adalah kata yang mengacu pada suatu benda. Kata benda berfungsi sebagai (S), (O), (pel), dan (K) dalam kalimat.
          Ciri-ciri kata benda adalah:
  • Dapat diingkari dengan kata bukan, contoh: bukan saya, bukan buku.
Dapat diikuti oleh gabungan kata yang + kata sifat (pohon yang rindang) atau yang sangat + kata sifat (gunung yang sangat tinggi.
      e. Kata ganti (pronomina)
Kata ganti (pronomina) adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada nomina lain. Jenis-jenis pronomina adalah:
¨  Pronomina persona, untuk mengacu kepada orang (miliknya, bukuku, dsb.).
¨  Pronomina penanya, untuk menanyakan benda orang atau barang (apa, siapa, kapan, dsb.).
¨  Pronomina penyapa, untuk menyapa (Mas, Pak, Dok, Prof., dsb.)
¨  Pronomina penunjuk, untuk menunjuk (ini, itu).
Kesalahan-kesalah yang sering terjadi dalam penulisan pronomia
  1. Dalam penulisan pronomia persona (ku, mu, nya) hanya untuk kata ganti orang, bukan hewan ataupun benda. Misalnya pensilku. Tidak diperkenankan dibuat untuk kata benda atau yang lain. Misalnya kera itu ekornya panjang. Dalam kata ekornya disini tidak diperkenankan karena bukan kata ganti orang.
  2. Penulisan pronomia penanya (apa, siapa, mengapa) harus diletakan di awal, bukan diawal atau pun di tengah.
  3. Penulisan pronomia penyapa diperlukan koma dan menggunakan hurruf capital. Misalnya Mas, mau pergi kemana?
  4. penulisan pronomia petunjuk (ini, itu) digunakan untuk menunjukan tempat. Misalnya saya di sini bersama nenek.
      f. Kata bilangan (numeralia)
Kata bilangan adalah kata yang dipakai untuk menghitung jumlah. Kata bilangan berfungsi:
¨  Menghitung benda (tiga, dsb.) dan angka-angka (ketiga, dsb.),
¨  Menyatakan lambang (L(50), C(100), dsb.) atau nomor (0,1,2, …, dsb.).
¨  Menyatakan ukuran, contoh: panjang (3 meter), berat (1 ton), isi (25 liter), satuan waktu (2 jam 25 menit), dan nilai uang (Rp.5.000,00).
      g. Kata sandang
Kata sandang Si dan Sang ditulis secara terpisah dari kata yang mengikutinya. Contoh: Sipemilik rumah sedang pergi. Sang permaisuri sedang berada di taman sari. Kata si digunakan saat kalimat mempunyai arti yang buruk. Misalnya si pencuri itu tertangkap basa saat mencuri. Sedangkan kta sang digunakan untuk kalimat bermakna baik. Misalnya sang raja sedang berperang melawan musuh.
      h. Partikel
¨  Partikel lah, kah,dan tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya. Contoh: siapakah yang telah makan tadi?
¨  Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya. Contoh: Selembar uang pun aku tak punya. Kecuali pada kelompok yang sudah dianggap pandu, contoh: meskipun, adapun, bagaimanapun, dsb.
¨  Partikel per yang berarti mula, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendampinginya. Contoh: Satu per satu mereka masuk ruangan dengan tertib.
¨  Kata depan (preposisi)
    Adalah kata tugas yang selalu berada di depan kata benda, kata sifat, atau kata kerja untuk membentuk gabungan kata depan (frasa preposisional). Contoh: di pasar, pada hari ini, denganbaik, buat ibu, oleh mereka, dsb.
      j.  Kata sambung (konjungsi)
 Adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan dua kata atau dua kalimat.
 Ada 2 jenis konjungsi: konjungsi antar kata (hidup dan mati, saya atau dia, dsb.) dan konjungsi antar kalimat (Situasi memang tidak memungkinkan, akan tetapi kita harus tetap mencoba).
     k. Kata seru (interjeksi)
Adalah kata tugas yang dipakai untuk mengungkapkan seruan hati, seperti rasa kagum, sedih, heran, dan jijik. Kata seru dipakai di dalam kalimat seruan atau kalimat perintah (imperatif).
Contoh:
              Ayo, silahkan duduk!
              Wah, kamu memang hebat!
3. Pembentukan kata
    Pembentukan kata adalah kegiatan membentuk kata baru (yang disebut  dengan kata turunan dan kata dasar) berdasarkan sistem yang berlaku  dalam bahasa yang bersangkutan. Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata didasarkan atas sistem  pengimbuhan, yakni dengan cara menambahkan imbuhan terhadap kata dasar atau bentuk dasarnya. Ada empat macam imbuhan yang lazim dipakai dlm bahasa Indonesia, yakni awalan (ditempatkan pada awal kata), akhiran(ditempatkan pada  akhir kata), sisipan (ditempatkan pada tengah kata), dan imbuhan gabungan(imbuhan yang ditempatkan pada awal dan akhir atau tengah  sekaligus). Dari seperangkat imbuhan tersebut, penggunnaan awalan meN- dan peN- (disertai dengan proses penasalan atau penyengauan) sering terjadi kesalahan atau tidak sesuai dari kaidah yang berlaku. Kaidah yang benar adalah sebagai berikut:
n  PeN- dan meN- menjadi peng- dan meng- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang didahului fonem/k,g,h,kh,vokal/.
Contoh:
            kacau   →pengacau,mengacau
garis     →penggaris,menggaris
hukum →penghukum,menghukum
khusus →pengkhususan,mengkhususkan
atur      → pengatur. mengatur
n  PeN- dan meN- menjadi pe- dan me- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang didahului fonem /r, l, m, n, w, y, ng, ny/.
     Contoh:
            rusak    → perusak, merusak
            luncur  → peluncur, meluncur
            makan → pemakan, memakan
            nama    → penamaan, menamai
            warna  → pewarna, mewarna
            yakin  → meyakini
            nganga → menganga
            nyanyi             → penyanyi, menyanyi
n  PeN- dan meN- menjadi pem- dan mem- jika dirangkaikan dengan kata
dasar yang didahului fonem /p, b, f, v/.
     Contoh:
            panjat   →pemanjat,memanjat
buat     →pembuat,membuat
fitnah   →pemfitnah,memfitnah
vonis    → memvonis
PeN- dan meN- menjadi penge- dan menge- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang hanya terdiri dan satu suku kata.
Contoh:
cor       →pengecor,mengecor
pel       →pengepel,mengepel
rem      →pengerem, mengeremPeN- dan meN- menjadi peny- dan meny- jika dirangkaikan dengan kata dasar yang didahuiui fonem/s/. 
Contoh:
suruh   →penyuruh,menyuruh
sulap    →penyulap,menyulap
siram    → penyiram, menyiram
  • Fonem /k, p, t, s/ pada awal kata dasar luluh jika mendapat awalan peN- dan meN-.
Contoh:
            kuat     →penguat,menguat
pijat → pemijat, memi
            siar       → penyiar, menyiarkan
            tutup    → penutup, menutup
Kecuali fonem yang berupa gugus konsonan /kl, kr, pr, tr, sp, sk, st/.
               klasik            →pengklasikan,mengklasikkan
               kritik             →pengkritik,mengkritik
produk          → pemproduksian, memproduksi
               tradisi            → pentradisian, mentradisi
             sponsorpensponsoran,mensponsori
              skema            → penskemaan, menskemakan
               stabil             → penstabilan, menstabilkan
Demikianlah kaidah-kaidah yang berkenaan dengan sistem pengimbuhan. Selain dapat diterapkan terhadap kata dasar berbentuk tunggal, sistem ini dapat pula diterapkan terhadap kata gabungan yang biasa disebut sebagai kata majemuk dan terhadap kata ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s