Mengenal Kung Fu Bagian 1

Kung fu atau gongfu (功夫, Pinyin: gōngfu) adalah ilmu bela diri yang berasal dari Tiongkok. Akan tetapi, arti kata Kung fu sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih luas, yakni sesuatu yang diperoleh dalam jangka waktu yang lama dan dengan ketekunan yang tinggi. Dengan demikian, seorang ahli masak yang hebat pun dapat dikatakan memiliki Kung fu yang tinggi.

Selain kata Kung fu, istilah Wushu dan Kundao atau Kuntao juga sering dipakai untuk menyebut ilmu bela diri dari Tiongkok tersebut. Ilmu Kung fu yang sudah menyebar ke Asia Tenggara (terutama Indonesia) pada masa lalu disebut Kuntao, demikian menurut Donn Draeger dalam bukunya yang berjudul Weapons and Fighting Arts of Indonesia. Akan tetapi istilah Kuntao tersebut sudah sangat jarang dipergunakan pada masa sekarang ini.

Belajar Kung Fu adalah belajar menaklukan diri sendiri.  Kebijaksanaan dan ketenangan diri sangatlah penting dalam mempelajari ilmu dalam kung fu karena kung fu bukanlah sesuatu untuk melukai sesama. Kung Fu harus digunakan dengan baik dan tidak bertentangan dengan etika dan moral. Ilmu kung fu sangat banyak jenisnya dari aliran yang lembut sampai aliran yang keras. Seseorang yang belajar kung fu haruslah memiliki kepribadian yang baik jika tidak maka sangatlah berbahaya seperti sebuat pisau, apabila seorang koki yang memegangnya maka akan sangat berguna dan dapat menghasilkan masakan yang lezat tapi apabila seorang perampok yang memegangnya maka akan sangat merugikan banyak orang. Maka dari itu seorang yang belajar kung fu seharusnya membentuk karakter  ini dalam dirinya :

KARAKTER YANG HARUS DIBENTUK DALAM ILMU KUNG FU

1. Loyalitas

Mahir dalam Kung Fu tidak bisa diperoleh dalam hitungan jam atau hari. Loyalitas dan kesabaran-lah yang dapat membuat orang bertahan untuk bisa mahir menguasai seni Kung Fu ini. Demikian juga dalam kehidupan. Loyalitas membuat kita memiliki passion memiliki harapan dan memiliki keinginan untuk mencapai yang lebih baik. Loyalitas tidak semata diukur dari durasi tahun atau keberadaan secara fisik. Lebih dari itu, loyalitas adalah apa yang kita berikan selama waktu yang dilalui. Meliputi segala upaya, karya dan pemikiran kita yang terbaik yang kita berikan dengan penuh ketulusan.

2. Kepercayaan

Guru Kung Fu akan memberikan kepercayaan kepada murid yang belajar Kung Fu agar kepercayaan diri si murid terbentuk. Demikian pula kepercayaan terhadap diri sendiri dan tujuan belajar Kung Fu akan menambah keyakinan terhadap manfaat Kung Fu. Kepercayaan memang tidak mudah dibentuk, namun bisa diruntuhkan dalam hitungan detik. Menjadi orang yang bisa dipercaya adalah usaha yang sama dengan memberi kepercayaan bagi orang lain, untuk mereka yang sulit menaruh kepercayaan. Kepercayaan membuat kita semakin optimal karena kita tahu bahwa yang ada dalam diri kita dapat memberikan rasa aman dan keyakinan bagi orang yang memberi kepercayaan.

3. Hormat kepada yang lebih senior

Murid belajar Kung Fu dari yang sudah mahir dan sudah banyak pengalaman. Tanpa rasa hormat, bisa jadi setelah kita banyak belajar dan mumpuni, kita menjadi lupa diri, lupa bahwa segala yang telah kita miliki adalah hasil dari kebaikan hati dan ketulusan dari senior kita yang sudah mengajarkan kita segalanya. Yang sederhana dari pelajaran karakter ini adalah : hormatilah orang lain seperti kita ingin dihormati. Kitapun akan menjadi yang ‘senior’ kelak.

4. Melindungi dan bertanggung-jawab terhadap yang lebih yunior

Yunior yang masih belum mahir, patut untuk dilindungi dan dijaga dari segala bahaya. Yang senior melindungi yang yunior, sebaliknya yunior menghormati senior. Ada beberapa bagian dari kehidupan yang tidak membedakan antara yunioritas dan senioritas ini. Bagaimanapun juga, yang masih lemah dan belum bisa berdiri diatas kaki sendiri perlu dilindungi dan dijaga, sembari dilatih untuk menjadi mandiri.

5. Sopan santun

Kalau kita lihat di film-flm Kung Fu, cara menunjukkan rasa hormat adalah dengan membungkukkan badan, atau memberikan salam hormat dengan kedua telapak tangan disatukan di depan wajah. Sopan santun dan rasa hormat akan menjaga kita untuk selalu bisa menahan diri lebih baik dan lebih baik lagi. Sopan santun tidak diartikan sebagai sebuah kekakuan sikap. Namun sebuah kebebasan (untuk menjadi diri sendiri) yang tetap mengingatkan kita untuk bisa menahan diri.

6. Rendah hati

Makin tinggi ilmu Kung Fu yang dikuasai bisa membuat murid menjadi sombong dan merasa sudah pintar segalanya. Kerendahan hati dalam belajar ilmu Kung Fu diperlukan untuk membentuk pola pikir bahwa ‘diatas langit masih ada langit’. Rendah hati memotivasi kita untuk selalu belajar banyak hal, mengasah potensi dan mengetahui bahwa masih banyak talenta dari diri kita yang bisa dikembangkan.

7. Memiliki rasa malu (bila berbuat salah)

Kung Fu tidak mengajarkan rasa malu ketika kalah. Namun ketika berbuat salah. Kesalahan membuat kita belajar bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki. Selalu ada kesempatan untuk mengubah kesalahan yang pernah kita perbuat.  Rasa malu untuk membuat kita sadar, bukan untuk menarik diri, apalagi membatalkan niatan diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Selain karakter diatas, dan bisa jadi masih banyak lagi karakter yang bisa digali dari filosofi belajar kungfu, sejatinya dalam Kung Fu ada point of view yang menarik. Kemenangan sejati tercapai apabila kita dapat merubah dan atau menghilangkan keinginan lawan untuk berkelahi. Apabila kita berhasil menghilangkan keinginan musuh untuk berkelahi, kemenangan yang hakiki sudah kita miliki.

Mungkin kita tidak ada waktu untuk tidak belajar Kung Fu. Tapi belajar dan mempraktikkan karakter Kung Fu niscaya membuat kita menjadi pemenang (hidup) sejati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s